Minggu, 16 Mei 2021

PWHT (Post Weld Heat Treatment)


 

Di proyek konstruksi industri minyak dan gas bumi termasuk juga di industri kimia nama PWHT bukan menjadi istilah asing lagi karena hampir setiap ada proyek migas dan industri kimia pasti ada kegiatan PWHT, tak terkecuali proyek yang berkaitan dengan pengelasan pipa.

 

prosedur-pwht

 


Pengelasan merupakan salah satu bagian penting dari pengoperasian dan pemeliharaan aset di industri pengolahan minyak bumi dan kimia. Meskipun memiliki banyak kegunaan, proses pengelasan dapat secara tidak sengaja melemahkan peralatan dengan timbulnya residual stresses (tegangan sisa) ke dalam material, yang menyebabkan berkurangnya sifat material itu sendiri. 

Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Mari kita simak penjelasan di bawah ini.

PENGERTIAN, FUNGSI DAN MANFAAT PWHT

Saluran perpipaan adalah salah satu metode yang paling praktis dan terjangkau yang sudah diterapkan pada sistem transportasi minyak dan gas sejak 1950. Pipa telah digunakan sebagai salah satu metode yang paling praktis dan berharga murah untuk transportasi minyak dan gas. Proyek konstruksi instalasi pipa untuk minyak dan transmisi gas telah meningkat drastis dalam tiga dekade terakhir.

Salah satu yang harus diperhatikan pada proyek konstruksi saluran pipa adalah proses penyambungan pipa tersebut. Penyambungan pipa sendiri dilakukan dengan proses pengelasan. Salah satu metode pengelasan yang sering digunakan pada penyambungan pipa adalah pengelasan shield metal arc welding (SMAW). 

Metode SMAW banyak digunakan pada masa ini karena penggunaannya lebih praktis, lebih mudah pengoperasiannya, dapat digunakan untuk segala macam posisi pengelasan dan lebih efisien.

Selain pengelasan SMAW, ada juga jenis las GTAW atau TIG yang menghasilkan kualitas yang sangat baik, terutama untuk pipa NPS kecil - 2" sampai 1/8"-  yang tidak bisa dilakukan menggunakan las SMAW.

Pengelasan memunculkan efek pemanasan lokal dengan temperatur yang tinggi yang menyebabkan logam mengalami ekspansi termal maupun penyusutan saat pendinginan sehingga menyebabkan terjadinya tegangan sisa, perubahan struktur mikro dan kekerasan yang tinggi pada daerah pengaruh panas atau heat affected zone (HAZ). Hal ini menyebabkan tegangan tarik di dalam dan di sekitar las, yang menyebabkan retakan sangat kecil yang akan mengendap oleh kondensasi, sehingga menyebabkan korosi (karat) dalam jangka panjang. 

Korosi tegangan ini akan menyebabkan retak lebih lanjut, dan dengan demikian bisa mengakibatkan lingkaran setan. Ini, tentu saja, tidak dapat diterima, terutama jika pengelasan harus disetujui dan disertifikasi.Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan melakukan PWHT.

Apa itu PWHT?

PWHT yang merupakan singkatan dari Post Weld Heat Treatment adalah proses pemanasan ulang pada material yang telah dilakukan pengelasan dengan menggunakan alat khusus untuk mengurangi tegangan sisa akibat pengelasan sehingga ketahanan logam semakin meningkat terhadap stress corrosion cracking (SCC).


Fungsi dan Manfaat PWHT

Proses PWHT memberikan berbagai treatment yang cukup potensial terhadap material uji, dua diantaranya yang paling umum adalah Post Heating untuk mengusir/mendifusi hidrogen dari area yang dilas untuk mencegah cracking, dan Stress Relieving untuk melepaskan ketegangan sisa sehingga mengurangi korosi dan retak

 proses-pwht-pressure-vessel

 *pwht pada vessel

Selain itu, PWHT dilakukan dengan beberapa alasan berikut ini: 

  • Menurunkan tegangan tarik(tensile strength)
  • Meningkatkan keuletan(ductility)
  • Menurunkan tingkat kekerasan(hardness level)
  • Memperbaiki tingkat keluaran hydrogen yang berdifusi (hydrogen diffusion) dari logam las (weld metal)
  • Melunakkan area heat affected zone (HAZ) dan meningkatkan ketangguhan(toughness)
  • Meningkatkan ketahanan terhadap retak dan korosi (stress corrosion cracking)
  • Menghindarkan kerja dingin dari logam las


KETENTUAN DAN PERSYARATAN PWHT


PWHT harus dilakukan atau tidak bergantung pada sejumlah faktor, termasuk hal-hal seperti sistem paduannya atau apakah material yang akan diuji tersebut telah menjalani perlakuan panas sebelumnya. Material tertentu sebenarnya bisa rusak oleh PWHT, sementara material lain hampir selalu membutuhkannya.


Semakin tinggi kandungan karbon suatu material, semakin besar kemungkinan dibutuhkannya PWHT setelah kegiatan pengelasan dilakukan. Demikian pula, semakin tinggi kandungan paduan dan ketebalan penampang, semakin besar kemungkinan material tersebut membutuhkan PWHT.


Secara umum, Post weld heat treatment / PWHT biasanya dilakukan pada jenis material yang memiliki ketebalan spesifik dan grade tertentu, yaitu:

  • Carbon Steel dan Low Temperature Carbon Steel (LTCS) untuk thickness minimal 20 mm ke atas.
  • Low Alloy Steel dengan kandungan Cr (Chromium) kurang dari 1/2%, dengan thickness diatas 20 mm
  • Low Alloy Steel dengan kandungan Cr (Chromium) lebih dari 1/2%, dengan thickness diatas 13 mm


Namun berdasarkan AWS D1.1. pada paragraph 3.14 tidak ada penjelasan sama sekali mengenai thickness / ketebalan material. Di situ dijelaskan bahwa Post Weld Heat Treatment dapat dilakukan melalui persetujuan Engineer dan memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  • Material yang di PWHT memiliki Specified Minimum Yield Strength (SMYS) tidak melebihi 50 Ksi (345 MPa)
  • Material yang di PWHT bukan material Quench Tempered, Quenching and Self Tempering (QST), bukan material TMCP (Thermo Mechanical Controlled Proccesed)
  • Material yang akan di Post weld heat treatment tidak mensyaratkan impact test pada Base Metal, HAZ atau weld metal.
  • Adanya data pendukung kalau material yang di PWHT memiliki strength dan ductility yang cukup.
  • PWHT harus di proceed sesuai dengan ketentuan yang ada pada paragraph 5.8 ( Note: Paragraph 5.8 pada AWS D1.1 adalah tentang Stress Relief Heat Treatment )
  •  

Apakah pipa sch 40 boleh dilakukan PWHT?


pipa-cs-sch40
Pipa carbon steel 4" sch 40


Secara umum pipa sch 40/STD tidak memenuhi standart untuk dilakukan PWHT karena ketebalan pipa sch 40/STD dengan ukuran pipa terbesar saja - NPS 48" - hanya 9,53mm, jauh di bawah standart minimum ketebalan pipa yang ditentukan di PWHT yaitu 20mm.


Namun, dalam hal tertentu bisa saja terjadi, jika Engineer memutuskan untuk dilakukan proses PWHT dengan mempertimbangkan segala aspek dan konsekuensinya, misalnya dikarenakan liquid/fluida tertentu yang akan melalui pipa tersebut. Hal ini mengacu pada AWS D1.1 tersebut di atas yang tidak ada penjelasan sama sekali mengenai thickness/ketebalannya - ini masih menjadi perdebatan pro-kontra di sektor per-weldingan.


Sedikit bercerita, bahwa saat ini (ketika artikel ini diposting) kami sedang mengerjakan proyek konstruksi fabrikasi pipa 6” Discharge pada salah satu perusahaan migas di Gresik yang dilakukan di luar lokasi pabrik atau tepatnya di workshop kami sendiri. Pipa yang dikerjakan adalah spool 6” sch 40, jenis material PIPE SMLS SCH 40 CS, A106-B, ASME B36.10, NACE.ORL.


Berdasarkan Tabel NPS dan SCH pipa 6 inch ketebalannya adalah 7,11mm yang jauh di bawah standart PWHT. Tapi di gambar isometricnya tercantum keterangan ‘PWHT = YES’ itu berarti harus dilakukan PWHT. Bagaimana kami menyikapinya? Kami mengontak user /yang mewakilinya dan melakukan diskusi. Dari pihak engineering / user memang harus dilakukan PWHT karena pertimbangan liquidnya (Hot Lean Amine) namun dari segi spesifikasi material tidak memungkinkan untuk dilakukan PWHT. Ya, sampai saat ini masih direview dan belum ada keputusan yang pasti. 

Semoga hal ini cepat terselesaikan dan akan kami update artikel ini jika sudah ada jawaban, sehingga bisa menambah wawasan dan rekomendasi bila suatu saat anda / kita mengalaminya. 

UPDATE (Minggu,26/10/2020) 

Akhirnya diputuskan bahwa pipa 6 inch untuk line tersebut memang harus dilakukan PWHT karena fluida/cairan yang melewati line pipa tersebut banyak mengandung zat asam yang bisa menimbulkan pipa cepat korosi. Itulah sebabnya digunakan pipa class NACE ORI yang memang kualitasnya sangat bagus.

Okey, kita lanjutkan lagi.


Persyaratan Khusus PWHT


Sebelum melakukan PWHT perlu dipastIkan bahwa pengelasan harus dilakukan mengikuti prosedur WPS dan PQR yang mencakup PWHT – karena ada WPS dan PQR biasa/non pwht - serta semua variable penting dalam ASME SECTION IX, seperti yang tercantum di bawah ini..

  • Saat melakukan PWHT lokal, teknik penerapan panas harus memastikan pencapaian suhu yang seragam di semua titik bagian yang diberi perlakuan panas. Perhatian harus diberikan untuk memastikan bahwa lebar pita/area yang dipanaskan di kedua sisi tepi las tidak boleh kurang dari empat (4) kali ketebalan pipa.
  • Sepanjang siklus PWHT, bagian di luar area yang dipanaskan harus dibungkus dengan baik dengan insulation(kaowool/blanket) untuk menghindari gradien suhu yang berbahaya pada permukaan pipa yang terbuka. Untuk tujuan ini, suhu pada permukaan pipa yang terbuka tidak boleh melebihi 400°c.
  • Valve, instrumen, dan special item lain di sekitarnya, harus dilindungi, karena risiko kerusakan selama proses post weld heat treatment.
  • Tidak boleh ada pengelasan setelah dilakukan PWHT.
  • Harus menggunakan automatic temperature recorders/alat perekam suhu otomatis yang telah dikalibrasi. Bagan kalibrasi / calibration chart dari setiap recorders harus ditunjukkan dan sudah mendapat persetujuan dari user sebelum memulai pekerjaan.


METODE PWHT


Secara umum PWHT dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

  1. Dalam ruangan/wadah tertentu – istilah lain ‘Furnace’ - PWHT dilakukan secara menyeluruh pada permukaan material uji (hasil fabrikasi), misalnya: pressure vessel, separator dll.
  2. Secara lokal pada lokasi pengelasan saja - Tidak membutuhkan tempat khusus karena langsung pada area pengelasan.


Namun secara spesifik proses post weld heat treatment bisa diperluas lagi menjadi 3 metode, yaitu:


1. Gas Firing in A Stationary Furnace (Fixed Furnace)


prosedur-pwht-fixed-furnace
Fixed furnace - image:tlfurnace.com


Pemanasan menggunakan gas yang dilakukan di tungku permanen / Fixed Furnace. Tungku /Furnace ini memang sengaja di-fabrikasi dan dibangun di tempat tertentu secara khusus untuk melayani kegiatan PWHT. Fixed Furnace banyak digunakan oleh fabrikator dan merupakan jenis PWHT yang membutuhkan tempat besar dan biaya tinggi. Bahan penyuplai panas biasanya menggunakan Oil Fuel maupun Gas Fuel. Untuk mendeteksi temperature heating, menggunakan thermocouple elements.


2. Gas Firing or Electrical Heating in Temporary Furnaces


prosedur-pwht
Temporary Furnace


Pemanasan menggunakan gas atau pemanas listrik dan dilakukan di Furnace sementara, yang nantinya bisa dibongkar lagi jika tidak digunakan. Metode ini dilakukan untuk menghindari cost tinggi atau bisa juga karena fabrikasi pipa dan fabrikasi logam lainnya tidak selalu mengharuskan untuk dilakukan PWHT.

Metode ini memungkinkan untuk meminimalkan gap antara permukaan material uji dengan dinding furnace, karena bisa disesuaikan dimensinya sehingga proses heating dan cooling bisa dilakukan dengan cepat

Proses heating bisa melalui heat resistance elements yang diletakkan di lantai atau menggunakan gas burner yang ditempatkan pada setiap sudut furnace dan dijaga jangan sampai mengenai langsung permukaan material uji.


3. Localized PWHT


prosedur-pwht
Pwht local - image:tomco.ca


Pemanasan dalam metode ini dilakukan langsung di area terdekat dengan pengelasan. Metode yang banyak dipakai adalah memanaskan dengan electrical resistance heating. Ceramic beaded heating coil dililitkan disekitar area welding. Temperature gradient dikontrol oleh arus listrik.

Metode lain yang popular adalah induction heating, meskipun cost dari metode ini cukup mahal. Pada induction heating pipa akan ikut menjadi panas sehingga temperature gradient seragam. 

Proses induction heating merupakan proses yang paling bersahabat terhadap welder dan pipe fitter karena pada umumnya dilakukan pada pengelasan pipa.


MESIN DAN PERALATAN PWHT


Peralatan-peralatan seperti panel pengontrol daya/power controlling panel yang dibutuhkan dalam proses PWHT terdiri dari:

peralatan-pwht
Induction heating machine
peralatan-pwht
Peralatan aksesoris - image:inductionheating-machine.com


  • Mesin induksi pemanas
  • Electrical power contactor (kabel induksi, output dan protektor)
  • Blanket (insulation)
  • Remote switch (perangkat potensiometer yang berfungsi mengontrol persentase input daya ke kumparan).
  • Temperature recorder (Indikator pengontrol dan perekam suhu)
  • Sebuah saklar On dan Off lampu indikator, terminal input, dan output untuk koneksi daya (power) dan termokopel (thermocouple).

    Setiap panel akan memasok satu heating station dan oleh karena itu masing-masing heating operation harus ada satu panel. Prosentase input daya untuk laju heating dan cooling disesuaikan secara manual dengan menggunakan potensiometer.

PROSES PWHT


Pengoperasian PWHT hanya boleh dilakukan oleh personel terlatih dan berpengalaman serta sudah mendapat ijin dari badan terkait.

Ada tiga point penting yang mendapat perhatian khusus selama proses PWHT, yaitu:

  1. Holding Time(waktu penahanan)
  2. Heating Temperature(suhu pemanasan)
  3. Cooling Rate(laju pendinginan)


Catatan penting:

Suhu pemanasan di atas 300 ° c harus dicatat dan laju pemanasan(heating) dan pendinginan(cooling) harus sesuai dengan standart yang ditentukan dalam WPS, namun tidak boleh lebih dari 200 ° c / jam. Perbedaan temperatur yang terukur dari berbagai thermocoupel harus berada dalam kisaran yang sama.

Heat treatment socking temperature dan holding time harus sesuai dengan spesifikasi prosedur pengelasan terkait. Untuk memudahkan referensi, lihat contoh tabel catatan PWHT di bawah ini. 

Cooling down/pendinginan harus tetap dikontrol hingga suhu 300 ° c. Di bawah itu pengendalian cooling down dengan sendirinya akan menyesuaikan suhu sekitar termasuk yang ada di bawah insulation. 


Report PWHT


Proses Post Weld Heat Treatment melibatkan banyak faktor termasuk identifikasi, waktu, serta parameter-parameter lainnya sehingga perlu dilakukan pencatatan.

Secara garis besar factor factor penting yang harus di catat dalam report PWHT adalah :

  • Identitas dari Material
  • Waktu pelaksanaan PWHT
  • Temperatur Record dalam bentuk dot grafik atau sejenisnya
  • Personel PWHT


FAKTOR-FAKTOR PENTING


Beberapa faktor penting lain yang harus diperhatikan sebelum melakukan PWHT diantaranya:

1. Cleaning Material

Material harus bersih dari segala kotoran, grease , oil dan lain-lain yang bisa menyebabkan terbakar atau timbulnya asap.

2. Insulasi

Menutup area di sekitar element dengan kaowool atau ceramic fiber untuk menjaga kestabilan suhu selama proses berlangsung.

3. Expansion area

Selama proses PWHT bisa mengakibatkan terjadinya pemuaian dan expansi material sehingga harus di perhatikan saat stress relieve material tersebut tidak mengalami restraint/pengekangan.

4. Support material

Perhatikan bagian-bagian yang perlu dilakukan pemasangan support untuk menjaga keseimbangan dari kemungkinan terjadinya distortion akibat dari pelunakan material selama proses pemanasan. Kurangnya perhatian pada bagian ini terkadang material uji bisa mengalami deformasi atau perubahan bentuk dari dimensi semula.


Itulah seputar prosedur PWHT di proyek konstruksi industri pengolahan minyak dan gas bumi. Persiapan dan perencanaan yang matang memang harus dilakukan. PWHT yang dilakukan asal-asalan bahkan tidak mengikuti prosedure bisa mengakibatkan kegagalan dan kerugian yang cukup besar. Bisa saja terjadi material roboh, tergelincir, deformasi dan lain-lain.

Peran penting yang bisa dilakukan teman-teman tim fitter dalam hal ini adalah membantu mempersiapkan peralatan dan support-support material sebelum dilakukan proses PWHT.

Sumber: 

http://repository.ppns.ac.id
https://whatispiping.com/post-weld-heat-treatment-pwht-carbon-steel
https://hazwelding.wordpress.com

 

Semoga artikel ini berguna dan bisa menambah wawasan kita. Silahkan dishare jika bermanfaat

 Salam Ganjar👌

Vidio K3

Video K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) seringkali dibutuhkan untuk menjadi media komunikasi kepada pekerja untuk meningkatkan kesadaran terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja. Video K3 dapat digunakan ketika pembicaraan 5 menit, awal rapat terkait dengan K3, pelatihan k3 atau juga dapat sebagai refreshment saja yang dikirim via surat elektronik dan media phoncell comunication


Berikut beberapa Vidio Safety campaign


1. Near Miss


2. House Keeping



3. Bad Idea (Dont Try this at Home)



Kamis, 29 April 2021

Alat Pelindung Diri (APD)

 Definisi

Alat Pelindung Diri ( APD ) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.

 

APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik

 

APD juga merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya

 Pentingnya APD Serta Sarana K3 Di Proyek Konstruksi Dan Migas | Project Team

Adapun tujuan dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), antara lain:

Melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administrative tidak dapat dilakukan dengan baik.
Meningkatkan efektifitas dan produktivitas kerja.
Menciptakan lingkungan kerja yang aman.






Sedangkan manfaat dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), antara lain :

Untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
Mengurangi resiko penyakit akibat kecelakaan.
 
 Demikian yang bisa kami sampaikan semoga bermanfaat. 
berikut bukti kegiatan training APD bagi pekerja PT. Yuan Sejati (Inhouse).
 
Salam Hormat.
 
Ganjar💪


Safety Induction

Apa yang di Maksud Safety Induction?

Safety Induction adalah pengenalan dasar-dasar Keselamatan kerja dan Kesehatan Kerja (K3) kepada karyawan baru atau visitor (tamu) dan dilakukan oleh karyawan dengan jabatan setingkat supervisory (dari divisi OSHE / Safety) dan bisa juga bisa dilakukan oleh yang paham tentang K3 dengan level jabatan minimum seperti tersebut diatas (minimal Foreman, dan supervisor up).

 

 


 

 

Adapun Induksi Oleh OSHE Dept. Bertujuan :

  1. Memberikan pemahaman tentang pentingnya K3 di dalam pertambangan.
  2. Memberikan informasi terbaru tentang kondisi dalam tambang sebab kondisi dalam tambang bisa berubah setiap hari.
  3. Memberikan pemahaman tentang peraturan yang berlaku dan sanksi apa yang diberikan jika melanggar peraturan di perusahaan tambang tersebut.
  4. Memberikan informasi tentang prosedur kerja yang ada di wilayah pertambangan tersebut.
  5. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Intinya induksi safety dilakukan untuk menghindarkan seseorang dari kecelakan saat memasuki wilayah pertambangan.

Siapa Sajakah Yang Berhak Mendapatkan Induksi Safety.

  1. Karyawan baru di suatu perusahaan tambang, karena pada umumnya karyawan baru sama sekali belum mengetahui kondisi dalam tambang, walaupun karyawan baru ini telah memiliki pengalaman di tambang lainnya, tetap harus di beri induksi saat berada di perusahaan baru.
  2. Seseorang bukan karyawan yang mendapat ijin untuk memasuki wilayah pertambangan, maka sebelumnya harus diberikan induksi terlebih dahulu.
  3. Karyawan yang baru selesai dari cuti kerja. Walupun sudah lama menjadi karyawan di perusahaan tersebut, karyawan ini harus tetap diberi induksi safety setelah dia kembali dari cuti kerjanya. Hal ini dilakukan karena kondisi dalam tambang sudah banyak berubah (seperti arah jalan tambang) selama dia pulang cuti.
Safety induksi biasa dilakukan pada saat karyawan baru hendak mengurus Kimper atau Mine Permit (Semacam ID Card) baru di perusahaan tersebut. Kimper sendiri diperuntukkan bagi karyawan yang nantinya akan diberikan ijin untuk mengendarai unit atau alat berat (sesuai dengan SIM dan keahlian karyawan tersebut mengemudi) di area pertambangan (Operator, Driver DumpTruck, Foreman, supervisor up, dll)

Sedangkan Mine permit diperuntukkan bagi karyawan umumnya. Karyawan yang mempunyai mine permit namun tidak memiliki kimper tetap tidak diperbolehkan mengendarai unit atau alat berat sendiri (staff kantor, adm, dll). Selama Karyawan baru belum mendapatkan Kimper atau Mine Permit, karyawan tersebut akan diberikan ID Card Visitor dan masih belum dibolehkan mengendarai unit di area pertambangan.

Selain itu Induksi saftey juga dilakukan kepada visitor atau tamu dari luar (bukan karyawan) yang hendak memasuki wilayah pertambangan. Hal ini dilakukan agar tamu tamu tersebut memahami kondisi tambang yang ada dan diharuskan mematuhi segala peraturan yang berlaku dalam tambang. Untuk membuktikan bahwa visitor telah mendapatkan induksi, maka Dept Safety (OSHE Dept) meminjamkan ID Card Visitor kepada pengunjung tersebut dan harus mengembalikannya setelah keperluannya selesai.

Keuntungan Dari Induksi Safety.

  1. Seseorang lebih memahami tentang pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) saat berada di wilayah pertambangan.
  2. Mendapatkan informasi terbaru tentang kondisi dalam tambang.
  3. Lebih memahami potensi bahaya yang mungkin terjadi di dalam wilayah tambang dan memahami bagaimana cara mengatasinya
  4. Meminimalisir kemungkinan terjadinya kecelakaan saat berada dalam wilayah pertambangan.
  5. Dan beberapa keuntungan lainnya yang mungkin belum saya ketahui.

 

Apapun bidang pekerjaan yang kita jalani sekarang sangat penting untuk memahami pekerjaan tersebut. Dengan begitu kita bisa memahami potensi-potensi bahaya apa saja yang mungkin ditimbulkan dari pekerjaan kita. Jika kita mengetahui itu semua, maka kita bisa meminimalisir bahkan menghilangkan potensi bahaya yang ada dari pekerjaan yang kita lakukan. Tetaplah bekerja dengan selamat, sehat, dan aman.

 Berikut bukti Orientasi Karyawan di PT. Yuan Sejati. 

 

demikian yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat. 

 

salam,

 

Ganjar💪

Rabu, 28 April 2021

Mechanical Machinery Hazards

The Mechanical Machinery Hazards Mechanical Machinery Hazards

Most machinery has the potential to cause injury to people, and machinery accidents figure prominently in official accident statistics. These injuries may range in severity from a minor cut or bruise, through various degrees of wounding and disabling mutilation, to crushing, decapitation or another fatal injury. Mechanical Machinery Hazards It is not solely powered machinery that is hazardous, for many manually operated machines (e.g. hand-operated guillotines and fly presses) can still cause injury if not properly safeguarded. Machinery movement basically consists of rotary, sliding or reciprocating action, or a combination of these. 

 

A person may be injured by machinery as a result of:

Crushing Hazard

A crushing hazard through being trapped between a moving part of a machine and a fixed structure, such as a wall or any material in a machine Crushing Hazard

 A crushing hazard through being trapped between a moving part of a machine and a fixed structure, such as a wall or any material in a machine

Cutting or Severing Hazard

Cutting or Severing Hazard 

A cutting or severing hazard through contact with a cutting edge, such as a band saw or rotating cutting disc 

Entanglement Hazard

 Entanglement Hazard

 

An entanglement hazard with the machinery which grips loose clothing, hair or working material, such as emery paper, around revolving exposed parts of the machinery. The smaller the diameter of the revolving part the easier it is to get a wrap or entanglement

Friction Or Abrasion Hazard

 

 Friction Or Abrasion Hazard

 

Contact with a friction or abrasion hazard, for example, on grinding wheels or sanding machines; a high-pressure fluid injection (ejection hazard), for example, from a hydraulic system leak

Selasa, 27 April 2021

QC (Manajemen Qualitas Proyek)

Belajar Mengenai Manajemen Kualitas Proyek - Daisma Bali

 

Manajemen Kualitas Proyek adalah proses yang dilakukan, untukmenjamin proyek dapat memenuhi kebutuhan yang telah disepakati, melalui aturan-aturan mengenai kualitas, prosedur ataupunguidelines. Kesepakatan ini dapat terukur melalui parameterconformance to requirements (proses dan produk proyek memenuhi spesifikasi) dan fitness for use (produk dapat digunakan sesuai maksud dan tujuannya).

Proses Project Quality Management
Model atau cara ini digunakan menghubungkan faktor kesuksesan yang kritis pada proses bisnis . Ini membangun dasar pondasi yang mana Continous Quality Management Model meneruskan mengadakan suatau analisis yang terhadap langkah langkah dan proses dalam meningkatkan dan memanfaatkan kesempatan yang ada.
Penggunaan kualitas dalam proyek konstruksi
Management kualitas yang terpadu merupakan pendekatan yang umum di gunakan untuk mendapatkan suatu kualitas yang diinginkan. Dan kualitas suatu proyek adalah masalah yang khusus yang mana wajib memerlukan penafsiran yang khusus pula.
Ada 6 (enam) lingkup dari pekerjaan proyek yang mana kualitas harus diuji dan diperiksa yaitu :
· Kualitas dari penerangan dan keputusan dari klien
· Kualitas dari proses disain
· Kualitas Material dan komponen
· Kualitas dari kumpulan proyek
· Kualitas dari kegiatan management proyek
· Management proyek sebagai rata rata dari peningkatan kualitas proyek


Quality Planning, Quality Assurance, Quality Assurance
Plan, dan Quality Control.
Quality control
Pengendalian Mutu (Quality Control) adalah teknik dan aktivitas operasi yang digunakan agar mutu tertentu yang dikehendaki dapat dicapai. Aktivitasnya mencakup monitoring, mengeliminir problem yang diketahui, mengurangi penyimpangan/perubahan yang tidak perlu serta usaha-usaha untuk mencapai efektivitas ekonomi.
Mutu (kualitas) dalam kerangka ISO-9000 didefinisikan sebagai “ciri dan karakter menyeluruh dari suatu produk atau jasa yang mempengaruhi kemampuan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan tertentu”. Hal ini berarti bahwa kita harus dapat mengidentifikasikan ciri dan karakter produk yang berhubungan dengan mutu dan kemudian membuat suatu dasar tolok ukur dan cara pengendaliannya.
Quality Assurance
Pemastian Mutu (Quality Assurance) adalah seluruh tindakan yang sistematis dan terencana yang diperlukan agar terjadi kepastian dan kepercayaan terhadap mutu produk/jasa yang diberikan. Aktivitasnya mencakup kegiatan proses, baik internal maupun eksternal termasuk merumuskan kebutuhan pelanggan. Maksud dari Quality assurance ini adalah mengidentifikasi kemajuan dari kualitas. Quality assurance mengevaluasi cost dari proyek secara keseluruhan secara teratur untuk menetapkan anggaran yang keluar relevan dan sesuai dengan standard kualitas.

Analisis Pareto dan contoh diagram.
Apa analisis Pareto?
Prinsip Pareto menyatakan bahwa hanya "penting beberapa" faktor yang bertanggung jawab untuk memproduksi sebagian besar masalah. Prinsip ini dapat diterapkan untuk peningkatan kualitas sampai-sampai sebagian besar masalah (80%) diproduksi oleh beberapa penyebab utama (20%). Jika kita benar ini menyebabkan beberapa tombol, kita akan memiliki probabilitas lebih besar dari keberhasilan.

Pada contoh di bawah, Anda dapat melihat bahwa hanya 6 dari 20 penyebab bertanggung jawab untuk 80% dari masalah. Yang 14 lainnya penyebab bertanggung jawab untuk 20% dari masalah.Ada kesempatan baik bahwa jika Anda berfokus pada pemecahan 6 penyebab utama, 14 lainnya akan diselesaikan juga.

 


 

Demikian semoga bermanfaat. 

 

Salam,

 

Ganjer👌