Selasa, 04 Juni 2024

PENGENALAN GAS DETECTOR

 

Gas detector adalah sebuah perangkat yang digunakan oleh pekerja untuk mendeteksi gas tertentu dalam suatu ruangan. Untuk mencegah kecelakaan yang tidak diinginkan, gas detector merupakan salah satu alat yang wajib digunakan khususnya saat bekerja di ruang terbatas. Yuk baca blog ini untuk mengetahui cara menggunakan gas detector demi keamanan Anda!  

 



Jenis Industri Yang Membutuhkan Gas Detector  

Salah satu fungsi utama gas detector adalah untuk mendeteksi keberadaan gas berbahaya seperti CH4, H2S, atau mungkin gas berbahaya lainnya. Sebelum memahami cara menggunakan gas detector mari simak industri jenis apa yang membutuhkan perangkat ini.  

  • Industri Pengolahan Air Limbah 

    Industri pengolahan air limbah membutuhkan gas detector karena  industri ini menghasilkan gas H2S. Bagaimana caranya? Bakteri yang terdapat di dalam selokan akan menggunakan oksigen untuk mengolah limbah menjadi limbah organik. Proses ini menghasilkan gas H2S yang memiliki bau telur busuk dan bisa membahayakan kesehatan pekerja. Selain itu, H2S memiliki sifat mudah meledak ketika terdapat paparan api. 
  • Industri Oil & Gas

    Sudah tidak heran lagi bahwa gas detector memainkan peran yang penting pada industri oil & gas. Karena sektor oil & gas sangat berpotensi untuk terpapar oleh gas berbahaya, gas detector digunakan untuk mengendalikan pelepasan gas berbahaya pada lingkungan dan mendeteksi gas berbahaya yang bocor. 
  • Industri Pertambangan (Mining) 

    Gas detector digunakan untuk mendeteksi keberadaan gas mudah meledak dan beracun seperti gas CH4 dan H2S pada area pertambangan. Pengendalian gas ini wajib dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pekerja. 
  • Industri Bahan Kimia 

    Beberapa industri kimia memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan pelepasan gas berbahaya yang bisa menyebabkan iritasi mata, iritasi hidung dan tenggorokan. Bahkan beberapa gas ini bisa menyebabkan sesak napas hingga kematian. Maka dari itu gas detector sangat diperlukan pada industri ini. Baca bagian selanjutnya untuk mengetahui cara menggunakan gas detector.  

 

Cara Menggunakan Gas Detector 

Berikut adalah cara yang bisa di ikuti untuk menggunakan gas detector MSA Altair 4XR.  

  1. Pastikan gas detector dalam keadaan baik 

    Cek fisik gas detector untuk melihat apakah gas detector masih layak digunakan. 
  2. Nyalakan gas detector

    Anda dapat melakukan tahap ini dengan memencet tombol on/off pada perangkat. Setelah menyala, gas detector akan membunyikan alarm sejenak. 
  3. Perangkat akan melakukan self-test 

    Setelah dinyalakan, perangkat akan melakukan self test. Self-test ini ditujukan untuk memastikan bahwa alarm, lampu LED, dan tampilan gas detector MSA Altair 4XR dapat berfungsi dengan baik. 
  4. Gas detector akan mendeteksi gas

    Setelah selesa melakukan self test, gas detector akan mendeteksi gas di sekitar ruangan. Sangat dihimbau untuk tidak menekan tombol “fresh air” apabila Anda sedang berada di lingkungan berbahaya karena gas detector bisa menampilkan hasil yang salah. 
  5. Gas detector akan menampilkan hasil 

    Gas detector akan menampilkan jenis gas yang terdeteksi, satuan yang digunakan untuk mengukur gas berbahaya, short term exposure limit, work place exposure limit , nilai kalibrasi, dan tanggal/waktu di tempat. 
  6. Lakukan pengecekan berkala

    Apabila memungkinkan, Anda dapat menggunakan gas detector MSA Altair 4XR untuk memeriksa konsentrasi gas berbahaya secara berkala untuk memastikan keamanan yang lebih terjamin. Catat hasilnya. 
  7. Matikan perangkat

    Jika sudah selesai, matikan gas detector MSA Altair 4XR dengan menekan tombol on/off lebih lama dari menyalakan gas detector.  


Gas detector MSA Altair 4XR merupakan multi gas detector yang dapat mendeteksi 4 jenis gas berbahaya. Gas detector ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi gas 2 kali lebih cepat dari biasanya lho.. Kini Anda sudah memahami cara menggunakan gas detector MSA Altair 4XR. Untuk informasi gas detector lainnya, Anda dapat menghubungi kami di sini
. 

 

dirangkum berbagai sumber

safetyworld


https://www.youtube.com/watch?v=9wrjGkWpwDA

https://drive.google.com/file/d/1qzAPFjQIYo_ZVhVrgTSzspYDRTEVTrww/view?usp=sharing


salam,

Gj

Selasa, 28 Mei 2024

PEKA (PENGAMATAN KESELAMATAN KERJA)_SAFE CARD

 



PEKA diawali dengan RED CARD yang dikembangkan di oleh Region Jawa pada tahun 2007. Latarbelakang RED CARDadalah perlunya suatu mekanisme untuk dapat meminimalisir terjadinya insiden sehingga tercipta kondisi kerja aman dan selamat dengan cara yang sederhana dan mudah dilaksanakan oleh pekerja.

PEKA adalah kegiatan mengamati dan mencatat kondisi tidak aman (unsafe condition), Perilaku tidak aman (unsafe action), dan hampir celaka (near-miss) di lingkungan kerja dalam rangka mendukung terciptanya kondisi kerja aman dan selamat. Tujuan dari PEKA adalah :

1.Meningkatkan kesadaran pekerja, mitra kerja dan tamu mengenai aspek keselamatan kerja 2.Melakukan pencatatan unsafe act, unsafe conditiondan near miss

3.Mengkomunikasikan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti sesuai dengan prioritas sehingga dapat mencegah dan mengantisipasi terjadinya insiden

 

Insidenadalah kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang dapat mengakibatkan kerugian. Insiden terdiri dari dua yaitu Near missdan Accident.

Near missadalah kejadian hampir celaka yang dapat mengakibatkan kecelakaan, kematian, dan kerusakan fasilitas. Kecelakaan(accident) adalah kejadian yang tidak diinginkan yang menyebabkan terjadinya korban cedera, kerusakan fasilitas atau kerusakan lingkungan.

Near miss disebabkan oleh dua hal yaitu perilaku atau perbuatan tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition).

Unsafe Action adalah tindakan tidak mengikuti prosedur kerja aman dan tidak mengedepankan aspek HSE yang bersumber dari manusia. Unsafe Condition adalah kondisi tidak aman dimana tidak terpenuhinya perlindungan yang memadai pada suatu proses/pekerjaan yang bersumber dari alat/bahan.


Berikut link safeCard PT. Yuan Sejati

https://bit.ly/4bQldom


Semoga bermanfaat


Minggu, 28 April 2024

Fabrikator Steps







1. Persiapan Desain:

Langkah pertama dalam setiap proses fabrikasi baja struktural adalah persiapan desain. Di sinilah gambar dan spesifikasi proyek dibuat dan disepakati. Setelah desain selesai, juru gambar dapat mulai membuat  Bill of Material (BOM)  dan Bill of Operations (BOO) yang tepat untuk menyiapkan informasi yang diperlukan untuk pembelian dan produksi.

2. Perolehan Bahan:

Ketika juru gambar menyelesaikan BOM yang terperinci, maka bagian pembelian akan mengambil alih untuk memperoleh bahan-bahan yang dibutuhkan untuk proyek tersebut. Hal ini biasanya melibatkan pemesanan baja dari pemasok. Baja bisa berukuran panjang standar atau sudah dipotong panjang berdasarkan pesanan. Baja tersebut kemudian akan dikirim ke lokasi fabrikasi.

3. Pemotongan dan Pengeboran Baja:

Langkah selanjutnya adalah memotong dan mengebor baja. Hal ini biasanya dilakukan dengan  mesin CNC . Baja pertama-tama dipotong dengan panjang yang benar dan kemudian dibor untuk membuat lubang yang diperlukan untuk proyek tersebut. Pemotongan baja dapat dilakukan dengan mesin gergaji bundar, mesin pemotongan laser, mesin waterjet, atau  mesin pemotong plasma .

4.  Pembengkokan  dan  pengelasan :

Setelah baja dipotong dan dibor, sekarang saatnya membengkokkan dan mengelasnya. Berbagai proses pembengkokan seperti pembengkokan bagian, pembengkokan gulungan, pembengkokan pelat, dan pembengkokan tabung dilakukan untuk menghasilkan bentuk yang diinginkan. Baja tersebut kemudian dilas bersama-sama menggunakan pengelasan MMA atau pengelasan MAG. Pengelasan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan mesin. Pengelasan harus dilakukan di bawah kondisi manajemen kualitas yang ketat sesuai BS EN ISO 3834, di bawah pengawasan koordinator pengelasan.

5. Pemeriksaan Kualitas:

Pemeriksaan kualitas memastikan bahwa baja memenuhi semua spesifikasi yang disyaratkan. Ini mencakup inspeksi visual, inspeksi dimensi, dan uji mekanis. Pengujian non-destruktif (NBT) juga dilakukan untuk memastikan bahwa bagian yang dilas bebas dari  cacat dan retakan tersembunyi .

6. Penyelesaian:

Setelah pemeriksaan kualitas selesai, baja kemudian disemprot pasir dan dicat. Hal ini dilakukan untuk  melindungi baja dari korosi . Proses finishing dilakukan sebelum pemasangan untuk mengurangi waktu dan biaya pemasangan.

7. Pengiriman, Perakitan, dan Pemasangan:

Pada langkah terakhir, baja dikirim ke lokasi dan dirakit sesuai desain yang dibutuhkan. Proses  perakitan  biasanya melibatkan perbautan, paku keling, atau pengelasan bagian-bagian baja menjadi satu. Bagian baja fabrikasi harus ditangani dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan. Pemasangan dapat dilakukan dengan menggunakan crane tugas berat. BCSA (The British Constructional Steelwork Association) telah menerbitkan beberapa panduan tentang pemasangan struktur baja dan langkah-langkah keselamatan.


https://docs.google.com/presentation/d/1RUb0AxqA5c2qBqC7iyRxWtUzFNTMwrjA/edit?usp=drive_link&ouid=115960829705792949348&rtpof=true&sd=true

Selasa, 23 Januari 2024

Tema Bulan K3_2024

 



Tujuan dan Sasaran Bulan K3 Nasional Tahun 2024
Bulan K3 Nasional 2024 digelar dengan tujuan tertentu. Berikut poin-poin tujuan dan sasaran Bulan K3 Nasional Tahun 2024.

- Tujuan

Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan norma K3;
Menjamin terlaksananya perlindungan K3 pada setiap kegiatan di semua sektor usaha;
Meningkatkan penerapan K3 pada pola dan bentuk pekerjaan baru yang timbul akibat era digital ekonomi;
Mewujudkan sumber daya manusia K3 yang unggul dan berdaya saing; dan
Meningkatkan partisipasi semua pihak dalam mewujudkan kemandirian pelaksanaan budaya K3 di setiap kegiatan pembangunan ekonomi yang enklusif dan berkelanjutan.


- Sasaran

Meningkatnya jumlah perusahaan yang menerapkan K3;
Meningkatnya jumlah perusahaan nihil kecelakaan;
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di semua sektor usaha yang berbudaya K3;
Meningkatnya produktivitas kerja secara nasional; dan
Meningkatnya koordinasi, sinergi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

https://www.youtube.com/watch?v=bwjqa5PSYj8



salam,

 

GJ

Rabu, 10 Mei 2023

Katodic Protection

 



Untuk memahami cathodic protection, sebaiknya kita harus tahu terlebih dahulu bagaimana terjadinya korosi. Ada tiga hal utama yang menjadi penyebab korosi. 

  1. Dua buah logam yang memiliki beda potensial electric
  2. Cairan elektrolit (air dengan semua jenis garam atau garam yang terlarut di dalamnya)
  3. Dua unit logam yang kontak secara elektrik karena memungkinkan terjadinya aliran arus listrik.

Pada dasarnya, korosi tidak dapat dihilangkan. Akan tetapi dengan kemajuan teknologi, proses korosi bisa di-control hingga titik optimum. Salah satu metode untuk mengendalikan korosi tersebut adalah cathodic protection.

Cathodic Protection adalah teknik yang digunakan untuk mengendalikan korosi pada logam dengan cara menjadikan permukaan logam tersebut sebagai katode dari sel elektrokimia. Cathodic protection ini umumnya digunakan untuk melindungi baja, sistem perpipaan, tangki, tiang pancang, anjungan lepas pantai, kapal dan casing sumur minyak onshore.

Berdasarkan dari sumber listriknya, Cathodic Protection dibagi menjadi dua metode, yaitu: Sacrificial Anode System dan Impressed-Current Cathodic Protection System

  1. Sacrificial anode system

Metode ini disebut sacrificial anode karena systemnya mengorbankan logam yang lebih reaktif (anode) untuk melindungi logam utama (katode). Prinsip dari metode ini adalah menciptakan sel elektrokimia dimana dua logam yang berbeda dihubungkan secara elektris  yang ditanam dalam elektrolit alam, seperti: tanah atau air. Berikut ini adalah gambar dimana dua buah logam  zinc dan besi yang dicelupkan di dalam asam klorida:

Gambar 2 - Korosi dari Zinc dan Besi di dalam asam klorida (www.corrosionsource.com)
Gambar 2 – Korosi dari Zinc dan Besi di dalam asam klorida (www.corrosionsource.com)

Kedua logam diatas, Zinc dan besi, akan mengalami korosi karena kedua logam tersebut mengalami reaksi oksidasi dan diseimbangkan dengan reaksi reduksi gas hydrogen.

Fe –> Fe2+ + 2e–Oxidation reaction
2H+ + 2e––> H2Reduction reaction
2H+ + Fe –> Fe2+ + H2Net reaction
Zn –> Zn2+ + 2e–Oxidation reaction
2H+ + 2e– –> H2Reduction reaction
2H+ + Zn –> Zn2+ + H2Net reaction

Kejadian ini tentunya akan berbeda jika kedua logam tersebut dihubungkan satu sama lain secara elektris seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3 - Cathodic protection zinc terhadap besi (www.corrosionsource.com)
Gambar 3 – Cathodic protection zinc terhadap besi (www.corrosionsource.com)

Pada gambar di atas, reaksi korosi (oksidasi) terpusatkan pada electrode zinc (anode) karena zinc lebih reaktif terhadap lingkungan daripada besi dan hampir semua reaksi reduksi dipusatkan pada besi. Pada gambar di bawah ini adalah contoh lain dari Sacrificial anode system :

Gambar 4 - Protected structure steel dengan alumunium (www.cathodicprotection101.com)
Gambar 4 – Protected structure steel dengan alumunium (www.cathodicprotection101.com)
  1. Impressed-current cathodic protection systems (ICCP)

Tidak seperti prinsip sacrificial anode, metode ini membutuhkan arus listrik DC (searah) dari sumber luar yang dihubungkan dengan logam anode dengan logam katode (logam yang dilindungi). Anode system ICCP ini dapat berbentuk batangan tubular dari berbagai material khusus, seperti: high silicon cast iron, grafit, campuran logam oksida, platina dan niobium. Metode ini biasanya digunakan untuk mem-proteksi  fasilitas-fasilitas yang besar.

Metode ICCP harus dihubungkan dengan arus listrik DC, jika arus listik nya AC maka harus dihubungkan dengan rectifier (penyearah arus) karena fungsi dari sumber listrik DC ini adalah untuk mengarahkan elektron yang terkosidasi dari anode menuju ke logam yang dilindungi sehingga logam tersebut tidak mudah untuk teroksidasi (korosi) karena kehilangan elektronnya.

Gambar 5 - Pipeline dengan ICCP protection (trialexhibitsinc.com)
Gambar 5 – Pipeline dengan ICCP protection (trialexhibitsinc.com)

Berikut di bawah ini adalah gambar pipeline yang tidak diproteksi oleh Impressed-current cathodic protection dimana pipeline tersebut mengalami oksidasi (kehilangan electron) tanpa ada logam lain (anode) yang mendonasi electron kepada pipa tersebut sehingga membuat pipeline ini mudah untuk korosi.

Gambar 6 - Pipeline tanpa ICCP Protection (trialexhibitsinc.com)
Gambar 6 – Pipeline tanpa ICCP Protection (trialexhibitsinc.com)

Jika artikel ini bermanfaat buat Anda, mohon untuk di Share because “Sharing is Caring”

Referensi :

1. id.wikipedia.org,

2. www.corrosionsource.com,

3. www.cathodicprotection101.com,

4. trialexhibitsinc.com

https://www.insinyoer.com/prinsip-kerja-cathodic-protection/